Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 23 Juni 2017

Bukan hanya sekedar review buku

this picture taken bye me





“Buku adalah jendela dunia.” Pernah dengar kalimat ini enggak? Atau menurut Mohammad Hatta juga pernah berkata “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Disadari atau tidak buku memang memiliki segudang manfaat apabila kita rajin membaca dan memaknai apa yang terkandung didalamnya, banyak sekali informasi yang bisa kita dapat. Selain menambah kosakata dalam kehidupan sehari-hari, wawasan kita juga bisa lebih luas. Selain itu dari segi kesehatan, membaca buku beberapa menit saja dapat menekan hormon kortisol, yaitu hormon pemicu setres. Oke, manfaat-manfaat yang tadi aku sebutkan memang sudah cukup umum. Sebenarnya, ada satu lagi manfaat yang akan aku ulas secara lebih mendalam disini. Pernahkah kalian membaca sebuah buku lantas kalian tersentuh dengan kalimat-kalimat dalam buku tersebut? Kemudian ada satu rangsangan dalam diri kalian untuk menjadi lebih baik lagi. Atau ada nasihat dalam buku tersebut yang membuat kalian banyak belajar. Rasanya seperti ini; Semakin aku tahu semakin aku tidak tahu apa-apa. 


Kamis, 08 Juni 2017

Pernah denger Wot Batu? Sebuah karya Seni yang Memesona

Hai teman-teman blogger, apa kabar nih? Lama ya tak bersua-sua lagi wkwk. Kali ini aku mau review salah satu tempat yang unik di kota Bandung. Tempatnya sih menurutku masih terbilang belum diketahui orang banyak, (berdasarkan hasil survei exlpore instagram dan akun-akun yang meng-tag tempat tersebut.)  seperti dipostingan-postingan sebelumnya bahwa aku paling suka kalau sudah ke tempat-tempat yang sejuk, sepi, jauh dari keramaian, penuh makna. Pokoknya tempat yang bisa memuat segala energi positif dan menghempaskan pikiran-pikiran negatif. Mungkin yang pernah punya mantan dan susah move on, kalian juga wajib kesini deh karena tempat ini emang bener-bener enakeun pisan buat merenung (this is just my opinion).

Awal mula tahu Wot batu karena ada salah satu teman kosan yang bilang, “Teh Tia ke Wot Batu geura, itu tempatnya belum banyak orang yang tahu kayanya cocok buat teteh. Enakeun tempatnya teh adem.” Seru Abe—salah satu teman kosan yang selalu banyak tahu-nya. Hehehe. Yauda dari sana aku langsung nyari-nyari informasi seputar Wot Batu, aku langsung berkunjung ke instagramnya dan postingan instagramnya juga baru sedikit, huaaa jadi makin penasaran doooong.  

Sumber https://www.wotbatu.id/

Senin, 22 Mei 2017

Ini tentang laki-laki yang tidak pernah menyakitiku walau satu sentipun





Ini tentang laki-laki yang tidak pernah menyakitiku walau satu sentipun; Bapak.
Kau tahu, sebenarnya aku bukan dari keluarga berada. Aku tinggal dipelosok, teman-temanku selalu mengeluh saat ada kerja kelompok dirumahku. Katanya jalanan menuju rumahku itu banyak lubangnya. Badan mereka sakit semua karena diameter lubangnya dalam sekali. 


Sejak SMA, aku memutuskan untuk kuliah. Dan diantara beberapa faktor yang membuat aku semakin ingin kuliah—walau tempat tinggal jauh dari keramaian. Ini semua karena perkataan Ikal dalam novel tertalogi Laskar Pelangi karyanya Pak Cik Andrea. Begini katanya, “Aku ingin sekolah, kemanapun, ke negeri manapun. Demi martabat Ayahku. Ayah juara satu seluruh dunia."

Sejak kecil sampai sekarang, aku belum pernah mendengar Bapak mengatakan bahwa ia menyayangiku. Bahkan saat sekarang aku diperantaun, di kota orang. Aku belum pernah mendapatkan sms bahwa Bapak merindukanku, ingin segera aku pulang. Tidak pernah. Sebenarnya, aku iri kepada teman-teman yang sering chattingan bersama Bapaknya. Lantas, Bapaknya memberikan nasihat, kemudian di akhir kalimat. “Doaku menyertaimu, nak.” 



Bapakku tidak bisa mengatakan itu semua.
Ia menyimpannya disepertiga malam.
Ia menyebut-nyebutku dalam setiap lantunan ayat sucinya.
Ia memerlihatkannya dalam kejadian kecil yang aku dan Bapak lalui; seperti saat aku sedang belajar naik sepeda. Bapak tak henti-hentinya menyuruhku untuk terus mencoba.
Bapak menaruh sayangnya pada setiap makanan yang aku makan.
Tidak pernah sekalipun aku melihat Bapak makan terlebih dahulu sebelum aku kenyang.
Bapak tidak bisa seromantis seorang kekasih kepada yang dicintainya.
Bapak terlalu pemalu untuk sekedar memelukku.
Pelukannya adalah keringat dan tubuh yang hitam legam karena saban hari mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecil kami.
Kau tahu, Bapakku tidak memiliki gelar. Namanya saja sangat singkat. Tapi ia memiliki harapan agar aku bisa menjadi lebih baik lagi dari pada dirinya.
Padahal, aku belajar kehidupan dari kehidupannya.
Itulah mengapa saat aku berada dititik terlemah, aku selalu ingat senyuman Bapak. Sebab senyuman Bapak adalah penawar bangkitku.
Bandung. 2017
 Tyataya

Senin, 08 Mei 2017

Trip Pangandaran dan Senja yang Menawan




Hai teman-teman blogger! Pernah enggak sih kalian mengalami kemacetan dalam menulis sesuatu, padahal udah ada niat yang menggebu-gebu gitu tapi saat udah di depan laptop; Mau nulis apa ya? Duh, ini udah basi. Duh tema yang itu udah pasaran. Nah kaan, akusih seriiiiing ngalami hal demikian. Sudah sekitar dua Minggu aku mengalami yang namanya writer’s block. Penyebabnya beragam tapi yang sering melanda sih yaaa, ini karena kurang jalan-jalan. Hahaha. Ada beberapa draft tulisan yang masih nganggur belum terjamah setelah beberapa Minggu aku mogok nulis, Cuma bisa bikin caption di instagram aja gitu. *miris*  oke ah, lupain.


Kebetulan atau emang udah ada planning sih dari sebelum UAS. Si lanang ngajak aku traveling ke pantai bersama keluarga besar coeg-nya. Dia tahu kalau aku belum pernah (lagi) atau lebih tepatnya sudah lama tidak melihat senja di pantai. Sampai-sampai aku lupa kalau air laut itu asin. Kalau perahu-perahu nelayan akan kembali ke dermaga. Seingatku, aku pernah pergi ke pantai dan leluasa menikmati senja saat aku duduk di bangku 5 SD. Masih kecil yaaaaa. Hal yang membekas dan gak pernah ilang sampai sekarang itu, aku pernah tenggelam saat berenang dipantai gara-gara berenangnya pake ban tapi duduknya kebalik. Kan aneehh. Kena marah sama orang tua, plus engap karena enggak bisa nafas di air. Hft. Untunglah aku orangnya enggak kapokan. Meskipun punya hal buruk tentang pantai tapi bagiku pantai selalu menawarkan senja yang menawan. Dan aku rindu menikmatinya lagi!


Tanggal 29 April 2017 kemarin aku punya kesempatan mengunjungi pantai lagi. Setelah sebelumnya traveling ke cirebon ngeliat air laut juga di Waterland Ade IrmaSuryani tapi sayang enggak sempat menikmati senjanya. Nah berangkat dari sana pas diajak jalan-jalan ke pantai  April kemaren aku langsung excited.
Singkat cerita, aku dan rombongan—keluarga coeg, berangkat dari kota Bandung dengan menggunakan motor sekitar sebelum subuh. Lantas melaksanakan sholat subuh di masjid Pahlawan, briefing sekitar sepuluh menit dipimpin oleh salah satu temanku yang bernama Indra. Ya, dia yang menjadi ketua acara jalan-jalan kali ini.